Ada orang yang dikenal karena banyak bicara tentang keberanian, tetapi ada pula orang yang tidak banyak menjelaskan dirinya, namun satu keputusan yang ia ambil cukup untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu ‘anhu termasuk dalam golongan yang kedua. Namanya tidak hanya dikenang karena ia seorang sahabat Rasulullah ﷺ, bukan pula hanya karena ia pernah memegang tanggung jawab besar di tengah kaum Muslimin, tetapi karena ada ketenangan, amanah, dan keteguhan yang menyertai perjalanan hidupnya.
Ia hidup di masa ketika keimanan tidak cukup dibuktikan dengan kata-kata. Pilihan-pilihan besar datang dalam bentuk peperangan, kehilangan, perjalanan jauh, tanggung jawab terhadap banyak orang, dan keadaan-keadaan yang memaksa seseorang memilih antara kenyamanan dirinya sendiri atau amanah yang sedang berada di pundaknya.
Rasulullah ﷺ pernah menyebut Abu Ubaidah sebagai orang kepercayaan umat ini. Sebutan itu bukan pujian yang ringan. Kepercayaan adalah sesuatu yang sulit dibangun dan mudah sekali dihancurkan. Seseorang mungkin cerdas, pemberani, pandai berbicara, atau memiliki kedudukan tinggi, tetapi belum tentu ia dapat dipercaya.
Amanah menuntut lebih dari sekadar kemampuan. Ia menuntut seseorang tetap benar ketika tidak ada orang yang mengawasinya, tetap adil ketika ia memiliki kekuasaan, dan tetap memikirkan orang lain ketika dirinya sendiri sedang berada dalam kesulitan. Dari sisi inilah Abu Ubaidah layak direnungkan. Kehidupannya mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu tampil dalam bentuk kemenangan besar. Kadang kemuliaan justru tampak ketika seseorang memilih untuk tidak meninggalkan orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya.
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, wilayah Syam mengalami sebuah ujian besar. Wabah menyebar dan merenggut banyak nyawa. Dalam sejarah, peristiwa itu dikenal sebagai Tha’un ‘Amwas.
Keadaan semacam itu tentu membawa ketakutan. Orang tidak mengetahui siapa yang akan sakit berikutnya, kapan keadaan akan berakhir, dan apakah dirinya akan termasuk orang yang dapat keluar dengan selamat. Hari-hari seperti itu membuat manusia kembali melihat betapa rapuhnya kehidupan. Jabatan, kekayaan, kekuatan, dan rencana yang telah disusun begitu lama bisa kehilangan artinya dalam waktu yang singkat.
Di tengah keadaan itulah Abu Ubaidah berada bersama kaum Muslimin di Syam. Umar bin Khattab mengetahui keadaan tersebut. Ia juga mengetahui siapa Abu Ubaidah. Umar sangat memahami nilai seorang sahabat seperti dirinya.
Tidak mengherankan apabila Umar menginginkan Abu Ubaidah keluar dari wilayah yang dilanda wabah. Seorang pemimpin tentu ingin menjaga orang-orang terbaik yang dimilikinya. Dalam beberapa riwayat sejarah disebutkan bahwa Umar mengirim surat meminta Abu Ubaidah datang kepadanya karena ada suatu keperluan. Namun Abu Ubaidah memahami maksud yang ada di balik surat itu. Ia mengerti bahwa Umar sedang berusaha menyelamatkannya.
Di sinilah kisah itu berubah menjadi pelajaran yang sangat dalam. Abu Ubaidah tidak melihat dirinya sebagai seseorang yang mempunyai hak lebih besar untuk diselamatkan dibandingkan orang-orang yang sedang bersamanya. Ia adalah pemimpin mereka. Ia berada di tengah mereka ketika keadaan baik, maka ia merasa tidak pantas meninggalkan mereka ketika keadaan berubah menjadi buruk. Ia menjawab surat Umar dengan penuh hormat.
Ia memahami keinginan sang khalifah, tetapi ia memilih tetap berada bersama pasukannya. Bukan karena ia meremehkan bahaya, bukan pula karena ia ingin menunjukkan keberanian, melainkan karena ia tidak ingin memisahkan nasibnya dari orang-orang yang sedang berada dalam tanggung jawabnya.
Di zaman kita, kepemimpinan sering kali terlihat indah dari kejauhan. Orang melihat jabatan, kewenangan, penghormatan, dan kemampuan untuk mengambil keputusan. Tetapi sedikit orang yang benar-benar memikirkan sisi lain dari kepemimpinan: menjadi orang yang tidak boleh lari lebih dahulu ketika masalah datang.
Seorang pemimpin yang baik bukan orang yang selalu mendapatkan tempat paling nyaman, melainkan orang yang merasa bahwa kesulitan orang-orang di bawah tanggung jawabnya juga merupakan urusannya. Abu Ubaidah menunjukkan hal tersebut tanpa perlu menjelaskannya dengan pidato panjang. Ia hanya memilih tetap tinggal.
Ketika Umar membaca jawaban Abu Ubaidah, ia menangis. Tangisan itu menyimpan banyak makna. Umar adalah seorang yang terkenal kuat. Ia bukan orang yang mudah rapuh ketika menghadapi persoalan. Namun ia mengetahui bahwa keputusan Abu Ubaidah mungkin akan membawanya kepada akhir hidupnya. Orang-orang yang melihat Umar menangis sampai bertanya apakah Abu Ubaidah telah meninggal.
Umar menjelaskan bahwa ia belum meninggal, tetapi seolah-olah kematian itu telah dekat dengannya. Umar ingin menyelamatkan sahabatnya, sementara sahabatnya memilih tidak meninggalkan amanahnya. Keduanya sedang memperlihatkan bentuk cinta yang berbeda. Umar ingin menjaga seorang manusia yang sangat berharga bagi umat, sedangkan Abu Ubaidah ingin menjaga perasaan dan tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada bersamanya.
Ada sesuatu yang menyentuh ketika kita membayangkan dua sahabat besar itu. Mereka tidak sedang berebut jabatan. Mereka tidak sedang mempertahankan kepentingan pribadi. Mereka justru sedang memikirkan orang lain. Umar memikirkan umat yang masih membutuhkan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah memikirkan kaum Muslimin yang sedang menghadapi wabah bersamanya.
Di sinilah kita belajar bahwa orang-orang besar sering kali berbeda dari kita bukan karena mereka tidak mempunyai rasa takut, tetapi karena mereka mempunyai sesuatu yang lebih besar daripada rasa takut itu: amanah.
Amanah memang sering terasa indah ketika hanya diucapkan. Kita senang mengatakan bahwa pekerjaan adalah amanah, keluarga adalah amanah, jabatan adalah amanah, ilmu adalah amanah, bahkan waktu adalah amanah. Tetapi amanah baru benar-benar terlihat ketika ia menuntut pengorbanan.
Sangat mudah mengatakan bahwa kita peduli terhadap orang lain ketika tidak ada yang harus kita korbankan. Sangat mudah berbicara tentang kesetiaan ketika kita masih mendapatkan keuntungan. Namun ketika keadaan tidak lagi nyaman, manusia akan mengetahui apakah kata-kata yang dahulu ia ucapkan benar-benar mempunyai akar dalam dirinya.
Abu Ubaidah mengajarkan bahwa kesetiaan tidak membutuhkan banyak pengumuman. Seseorang yang benar-benar setia tidak selalu perlu mengatakan, “Aku akan tetap bersama kalian.” Ada kalanya ia cukup hadir ketika yang lain mulai pergi. Ada kalanya bentuk cinta terbaik bukan sebuah kalimat, tetapi keputusan untuk tidak meninggalkan orang lain sendirian menghadapi kesulitan.
Tentu kita tidak sedang diminta meniru peristiwa wabah secara harfiah. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mencari bahaya. Menjaga keselamatan adalah bagian dari syariat. Tawakal tidak pernah berarti mengabaikan ikhtiar. Justru dalam riwayat tentang wabah Syam, Umar sendiri mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dan musyawarah. Karena itu pelajaran dari Abu Ubaidah bukanlah agar kita sengaja menempatkan diri dalam bahaya. Pelajarannya terletak pada hati seorang pemimpin yang tidak merasa dirinya lebih berharga daripada orang-orang yang dipimpinnya.
Kadang kita perlu melihat diri sendiri melalui kisah seperti ini. Kita mungkin bukan panglima. Kita mungkin tidak mempunyai ribuan orang di bawah komando kita. Tetapi hampir semua manusia mempunyai bentuk kepemimpinannya masing-masing. Seorang ayah memimpin keluarganya. Seorang ibu menjaga rumah dan anak-anaknya.
Seorang kakak mempunyai pengaruh terhadap adiknya. Seorang guru mempunyai tanggung jawab terhadap murid. Seorang pengurus mempunyai amanah terhadap anggotanya. Seorang pemilik usaha mempunyai tanggung jawab terhadap orang-orang yang menggantungkan penghidupan dari pekerjaan tersebut. Bahkan seseorang yang belum mempunyai siapa pun di bawah tanggung jawabnya tetap memiliki satu amanah besar: dirinya sendiri.
Masalahnya, kita sering ingin mendapatkan bagian indah dari sebuah peran tanpa menerima beban yang menyertainya. Kita ingin dihormati tetapi tidak ingin dikritik. Kita ingin menjadi orang yang didengar tetapi tidak mau mendengar.
Kita ingin mempunyai bawahan tetapi enggan menanggung kesalahan mereka. Kita ingin disebut pemimpin tetapi ketika masalah datang, kita mencari siapa yang bisa disalahkan. Abu Ubaidah justru menunjukkan kebalikannya. Semakin besar tanggung jawab yang ada di pundaknya, semakin ia merasa harus hadir.
Ada banyak orang yang mampu berada di depan ketika jalan sedang mudah. Tetapi tidak semua orang mampu tetap berada di depan ketika jalan mulai gelap. Di situlah karakter manusia diuji. Apakah ia masih mampu memikirkan orang lain ketika dirinya sendiri sedang takut? Apakah ia masih mampu bersikap adil ketika keselamatannya sendiri sedang dipertaruhkan? Apakah ia tetap menjaga amanah ketika tidak ada satu pun orang yang akan menyalahkannya jika ia memilih pergi?
Sering kali masalah terbesar dalam kehidupan bukan karena kita tidak mengetahui mana yang benar. Kita sebenarnya tahu. Kita tahu bahwa orang tua harus dihormati. Kita tahu bahwa pekerjaan harus dilakukan dengan jujur. Kita tahu bahwa janji harus ditepati. Kita tahu bahwa keluarga membutuhkan waktu. Kita tahu bahwa orang-orang di bawah tanggung jawab kita membutuhkan keadilan. Tetapi mengetahui tidak selalu membuat seseorang mampu melakukannya. Jarak antara pengetahuan dan tindakan itulah tempat karakter seseorang dibentuk.
Abu Ubaidah adalah contoh seorang manusia yang pengetahuannya tentang amanah telah menjadi bagian dari dirinya. Ia tidak sedang mencari citra sebagai seorang pemimpin. Ia tidak tahu bahwa berabad-abad kemudian manusia akan membaca kisahnya. Ia tidak mengambil keputusan agar namanya masuk ke buku-buku sejarah.
Ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar di hadapan Allah. Mungkin justru karena itulah namanya bertahan begitu lama. Banyak orang bekerja keras agar dikenal, sementara orang-orang seperti Abu Ubaidah dikenal karena mereka tidak hidup untuk mencari pengenalan manusia.
Ada pelajaran lain yang dapat kita ambil dari kisah ini. Kehidupan tidak selalu memberikan akhir yang sesuai dengan keinginan kita. Abu Ubaidah akhirnya wafat dalam masa wabah tersebut. Secara manusiawi kita mungkin bertanya, mengapa orang sebaik dirinya harus meninggal pada saat umat masih membutuhkannya?
Tetapi begitulah kehidupan. Kebaikan seseorang tidak membuatnya bebas dari ujian. Kedekatan seseorang kepada Allah tidak berarti hidupnya akan selalu mudah. Para nabi justru menghadapi ujian yang sangat berat. Para sahabat juga kehilangan orang-orang yang mereka cintai, mengalami perang, sakit, kelaparan, dan kematian.
Kita kadang mempunyai pemahaman yang terlalu sederhana mengenai kebaikan. Kita berpikir apabila seseorang baik maka hidupnya pasti dimudahkan dalam bentuk yang kita inginkan. Ketika kesulitan datang, kita mulai bertanya mengapa.
Padahal kemudahan tidak selalu berarti tidak mengalami kesulitan. Kadang kemudahan terbesar adalah ketika Allah memberi seseorang hati yang mampu tetap benar di tengah kesulitan. Abu Ubaidah tidak diselamatkan dari setiap ujian, tetapi ia diberi keteguhan dalam menghadapinya. Dan mungkin keteguhan itulah yang jauh lebih berharga daripada umur yang panjang tanpa arah.
Kematian Abu Ubaidah juga mengingatkan kita bahwa panjang pendeknya kehidupan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ada manusia yang hidup lama tetapi tidak meninggalkan apa-apa kecuali namanya. Ada pula manusia yang telah meninggal berabad-abad lalu, tetapi sikapnya masih membuat orang lain memperbaiki hidupnya. Tubuh mereka sudah lama tidak ada, namun teladan mereka seperti terus berjalan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kita semua suatu hari akan sampai pada titik yang sama. Jabatan akan berhenti. Usaha yang kita bangun akan ditinggalkan. Rumah akan ditempati orang lain. Nomor telepon kita tidak lagi digunakan. Akun-akun yang dahulu kita buka setiap hari perlahan akan menjadi sunyi. Orang yang dahulu membutuhkan kita akan belajar hidup tanpa kita. Pada akhirnya, yang tertinggal bukan seberapa sering kita terlihat, tetapi apa yang pernah kita berikan kepada kehidupan orang lain.
Mungkin karena itu kisah Abu Ubaidah terasa begitu dekat meskipun peristiwanya terjadi sangat lama. Kita tidak harus menjadi panglima untuk belajar darinya. Kita hanya perlu mempunyai sesuatu yang sedang dipercayakan kepada kita.
Ketika seseorang dipercaya menjadi suami, jadilah suami yang tidak hanya meminta hak tetapi juga menjaga. Ketika dipercaya menjadi ayah, jangan hanya memikirkan bagaimana anak harus menurut, tetapi pikirkan pula apakah rumah sudah menjadi tempat yang membuat mereka merasa aman.
Ketika menjadi guru, jangan hanya menuntut murid memahami pelajaran, tetapi tanyakan apakah kita sudah berusaha membuat ilmu mudah mereka pahami. Ketika mempunyai karyawan, jangan hanya memikirkan target perusahaan, tetapi ingat bahwa di balik nama mereka ada keluarga yang menunggu mereka pulang.
Begitu pula bagi seorang santri. Setelah bertahun-tahun belajar, mungkin hidup tidak selalu membawa kita ke tempat yang pernah kita bayangkan. Ada yang mengabdi, ada yang bekerja, ada yang kembali ke rumah, ada yang berdagang, ada yang melanjutkan pendidikan.
Bentuk jalannya berbeda-beda, tetapi amanahnya tetap sama: jangan biarkan ilmu hanya menjadi sesuatu yang pernah kita pelajari. Biarkan ia terlihat dalam cara kita membawa diri. Dalam cara kita menjaga kepercayaan. Dalam cara kita bekerja. Dalam cara kita memperlakukan orang yang lebih lemah daripada kita.
Kita sering mengira pengaruh besar hanya dapat diberikan oleh orang yang mempunyai banyak pengikut. Padahal satu keputusan yang benar bisa menjadi pelajaran bagi orang lain bertahun-tahun kemudian. Abu Ubaidah tidak pernah membuat seminar tentang kepemimpinan. Ia tidak menulis buku motivasi tentang amanah.
Tetapi caranya menjalani amanah telah menjadi buku yang dibaca oleh sejarah.
Jika suatu hari kita diberikan kedudukan, semoga kita tidak menjadi orang yang hanya menikmati penghormatannya. Jika suatu hari kita diberikan kekayaan, semoga kita tidak hanya sibuk menjaga milik kita sendiri. Jika suatu hari banyak orang menggantungkan harapan kepada kita, semoga kita tidak menjadi orang pertama yang pergi ketika keadaan menjadi berat.
Dan jika saat ini kita merasa belum mempunyai kedudukan apa pun, tidak apa-apa. Karakter tidak dimulai setelah seseorang menjadi besar. Karakter dibentuk dari perkara-perkara kecil. Dari apakah kita menepati janji sederhana.
Dari apakah kita menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepada kita. Dari apakah kita berani mengakui kesalahan. Dari apakah kita masih berlaku baik kepada orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepada kita.
Abu Ubaidah pernah berada pada keadaan ketika satu pilihan dapat menentukan apakah ia akan tetap bersama orang-orangnya atau berusaha keluar dari keadaan yang mengancam. Ia memilih amanah. Kita mungkin tidak pernah menghadapi pilihan sebesar itu.
Tetapi hampir setiap hari kehidupan memberi kita versi-versi kecil dari pilihan yang sama: diri sendiri atau tanggung jawab, kenyamanan atau kewajiban, terlihat baik atau benar-benar berbuat baik.
Barangkali kita tidak harus bertanya apakah kita mampu menjadi seperti Abu Ubaidah. Pertanyaan itu terasa terlalu jauh. Cukuplah bertanya pada diri sendiri: ketika seseorang mempercayaiku, apakah ia merasa aman karena kepercayaan itu diberikan kepadaku?
Sebab pada akhirnya, amanah bukan tentang seberapa besar sesuatu yang berada di tangan kita. Amanah adalah tentang bagaimana keadaan sesuatu itu setelah berada di tangan kita.
Abu Ubaidah bin al-Jarrah telah lama meninggalkan dunia. Namun satu pelajaran dari hidupnya masih sangat dekat dengan kita: manusia tidak selalu dikenang karena berhasil menyelamatkan dirinya dari setiap kesulitan. Ada manusia yang justru dikenang karena ketika kesulitan datang, ia tidak meninggalkan orang-orang yang telah mempercayainya.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk kemuliaan yang paling sulit dibuat-buat.
Catatan sumber: Kisah Abu Ubaidah bin al-Jarrah, surat Umar bin Khattab, serta peristiwa Tha’un ‘Amwas disebutkan dalam literatur sejarah dan biografi para sahabat, termasuk Siyar A‘lam an-Nubala karya Imam adz-Dzahabi.
